16 April 2008 oleh ibnu abdullah
Bagaimanakah hukumnya
menjadi makmum kepada
Imam yang kita ketahui
dengan jelas bahwa dia
adalah ahlul bid’ah?
Mubtadi’ (Pelaku bid’ah)
terbagi dua :
a. Mubtadi’ yang
menyebabkan ia kafir
sehingga dianggap keluar
dari Islam.
Mubtadi’ seperti ini tidak sah
sholat di belakangnya
menurut kesepakatan
Ahlussunnah Wal Jama’ah
dan tidak ada perbedaan
pendapat tentang hal
tersebut maka jika sholat
dibelakangnya, sholatnya
batal harus diulang.
b. Mubtadi’ yang bid’ahnya
tidak menyebabkan ia keluar
dari Islam.
Sholat di belakang mubtadi’
seperti ini tidak lepas dari
dua keadaan :
Keadaan yang pertama
: Tidak ada masjid sholat
jama’ah atau tidak ada
tempat sholat jum’at atau
sholat ‘Ied kecuali mesjid
yang diimami oleh Mubtadi’ ini.
Dalam keadaan yang seperti
ini, para ulama berselisih
pendapat apakah sah sholat
dibelakangnya atau tidak.
Tapi pendapat yang rojih
(kuat) dalam hal ini adalah
sholat di belakang mubtadi’
dalam kondisi seperti ini
adalah sah. Ini merupakan
pendapat Jumhur Ulama
(kebanyakan para ulama)
seperti Abu Hanifah, Syafi’i
dan Malik dan Ahmad dalam
salah satu riwayat.
Banyak dalil yang
menunjukkan kuatnya
pendapat ini. Diantaranya :
1. Hadits Abu Hurairah :
يُصَلُّوْنَ لَكُمْ فَإِنْ
أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَإِنْ
أَخْطَؤُوْا فَلَكُمْ
وَعَلَيْهِمْ
“Sesungguhnya Rasulullah r
bersabda : “Mereka sholat
(mengimami kalian) kalau
mereka benar, maka
(pahalanya) untuk kalian,
kalau mereka salah maka
(pahalanya) untuk kalian
dan (dosanya) atas mereka”.
Hadits Riwayat Shohih Al-
Bukhory no.294.
Lanjutkan membaca
Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Fiqh&article=5&page_order=1&act=print
Ditulis dalam aqidah | 1 Komentar »
23 Februari 2008 oleh ibnu abdullah
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Kufur kecil ialah kufur yang tidak menyebabkan orang yang bersangkutan keluar dari islam. Contohnya:
1. Kufur nikmat
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang mengajak bicara orang-orang mukmin dari kaum Nabi Musa ‘alaihis salam.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah), tatkala Rabb kalian memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”(Ibrahim: 7) Baca entri selengkapnya »
Tag: kufur
Ditulis dalam aqidah | Leave a Comment »
13 Februari 2008 oleh ibnu abdullah
Pengertian Bid’ah Secara bahasa:”Maknanya adalh ssuatu yang baru yang tidak ada contoh seblumnya,seperti Firman Allah:
قل ما كنت بدعا من الرسل
”Katakanlah: Aku bukanlah bid’ah dari kalangan para rasul”{Al-Ahqaf:9}. Baca entri selengkapnya »
Tag: bid'ah
Ditulis dalam aqidah | Leave a Comment »
13 Februari 2008 oleh ibnu abdullah
Allah ta’ala berfirman”Sesungguhnya Allah dan Malaikat2-Nya bershalawat atas Nabi.Hai orang2 yg beriman,bershalawatlah kamu atas Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”(Al-Ahzab: 56).Iman AL-Bukhari mengatakan bahwa Abu’Aliyah berkata,”Shalawat Allah adlh pujianNya untk Nabi di hadapan para malaikat.Adapun shalawat para malaikat adlh doa(untk beliau)”.Ibnu ‘Abbas berkata,”Memberikan Shalawat artinya memberikan berkah.”Maksud dari ayat di atas,sebagai mana di sebutkan oleh Ibnu katsir dlm tafsirnya,yaitu”Sesungguhnya Allah mengabarkan kpd para hambNya di sisiNya di hadapan para malaikat,bahwa sesunhunya Dia memujinya di hadapan para malaikat.Dan bahwasanya para malaikat bershalawat untk beliau.Kemudian, Allah memerintah kpd penghuni dunia agar beshalawat untuknya.
1.Dalan ayat di atas,Allah memerintahkan kita agar mendoakan dan bershalawat untuk Rosulullah shalallahu ‘alahi wasallam.bukan memohon kepada beliau,sebagai sesembahan selain Allah,atau membacakan Al-fatihah bagi beliau,sebagaimana yang di lakukan oleh sebagian manusia.
2.Bacaan shalawat untuk Rosulullah yang paling utama adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabatnya,ketika beliau bersabda,
“Katakanlah,’Ya Allah,limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga-nya,sebagaimana engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan keluarganya.Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mulia. Ya Allah,limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarganya,sebagaimana Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarganya.Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mulia.”(HR.Al-Bukhari dan Muslim)
3. Shalawat di atas,juga shalawat-shalawat yang lainnya yang warid di dalam kitab-kitab hadits dan fiqih yang terpercaya,tidak ada yang menyebutkan kata ’sayyidina’(penghulu kita),yang hal itu di tambahkan oleh kebanyakan manusia.memang benar bahwa Rosulullah shalallahu’alaihi wasallam adalah sayyidina(penghulu kita),tetapi berpegang teguh dengan sabda dan tuntunan Rasul adalah wajib.Dan ibadah itu di lakukan berdasarkan nash syariat,tidak berdasarkan akal.
4. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda,”jika kalian mendengar muadzin,maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan,kemudian beshalawatlah untukku.Karena sesungguhnya,barangsiapa yang shalawat untukku satu kali,kemudian mohonkanlah wasilah untukku.sesungguhnya ia(wasilah) adalah suatu tempat (derajat) di surga.Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah.Aku berharap hamba itu adalah aku.Barang siapa memintakan wasilah untukku,maka ia berhak menerima syafaatku.” (HR.Muslim).
Tag: shalawat nabi
Ditulis dalam kebodohan | Leave a Comment »
21 Oktober 2007 oleh ibnu abdullah
Benarkah para sahabat generasi yang terbaik dalam umat ini melakukan bid’ah secara syar’i?sebagai mana yang sering kita dengar bahwa pengumpulan al-qur’an pada zaman Abu Bakar dan pembukuan Al-Quran pada zaman utsman radhiyallahu ‘anhuma adalah bid’ah hasanah. padahal mereka para sahabat yang mulia tersebut tentulah sangat mengerti makna dari
pengertian bid’ah yang sebenarnya? Ataukah mreka para sahabat telah menyelisihi sabda rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: ”kullu bid’atin dhalalah”?.
Allahu musta’an,wallahu a’lam bishawab.
Kita perhatikan Firman allah ta’ala berikut ini: إن علينا جمعه وقرآنه ‘Dan atas kamilah mengumpulkan Al-Quran (didalam dadamu) dan membacanya’(Al-Qiyamah:17)
berdasarkan keumuman lafadz ayat yang mulia ini,maka terdapat isyarat dianjurkannya mengumpulkan Al-Quran-apakah dengan cara menghafalnya ataupun membukukanya.dan kita ketahui bahwa jika ada dalil yang menunjukan disyareatkanya sesuatu berarti hal tersebut bukanlah bid’ah.Apalagi jika dari kalangan para sahabat sendiripun mengerjakannya dan menyepakatinya.Kalau ada yang berkata: ‘Lalu kenapa dizaman Rasulullah pada waktu itu Al-Quran tidak dibukukan? Jawabnya adalah:’dizaman Rasulullah masih ada pencegah/penghalang untuk dibukukannya karena Al-Quran pada zaman itu masih turun secara berangsur-angsur,dan terkadang Allah menghapus ayat yang dikendakinya dan menggantinya dengan yang dikehendakinya pula.Oleh karna itu setelah Rasulullah meninggal maka mereka para sahabat baru mengumpulka dan membukukannya disebabkan karna agama ini telah sempurna dan wahyu telah terputus.dan dikarnakan pula sebab-sebab yang lain sehingga terjadi pada zaman Abu Bakar-Utsman Radhiyallahu anhuma.Dan perlu kita ketahui bahwa ulama pada zaman pengumpulan dan pembukuan Al-Quran ini adalah para sahabat nabi dan diantara mereka telah sepakat dan tidak ada perselisihan tentang permasalahan ini,dan ijma ulama adalah salah satu hujjah di dalam islam,berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Sesungguhnya Allah ta’ala telah melindungi umatku untuk bersepakat diatas kesesatan”(HR:Ibnu Abi Ashim dari Annas ain Malik dan di hasankan oleh Al-albani dalam shahihul jami’(Lihat kitab Ushul Bida’-karangan Ali Al-Halabi,232).
Wallahu a’lam bish-shawab.
Tag: bid'ah hasanah
Ditulis dalam aqidah | Leave a Comment »